Agrowisata Pangkalpinang Bangka Botanical Garden (BBG)

avatar belitung Tour
Documen Goggle

Bangka Botanical Garden (BBG) mengolah lahan untuk pengembangan dan percepatan ekonomi Bangka Belitung. Terletak di kawasan industry Ketapang, 7 tujuh) Km dari Bandar Udara Depati Amir, Pangkalpinang (Bangka). BBG telah mengembangkan industry modern secara terpadu: peternakan, perikanan, dan perkebunan.

Dalam konteks terpadu ini, BBG menerpakan zerowaste (tanpa sisa), suatu acuan yang memaksimalkan limbah, semua limbah bermanfaat untuk seluruh bidang idustri yang dikembangkan. Contohnya, pemanfaatan limbah sapi berupa air seni dan kotorannya. Air seni sapi yang mengandung urea jika ditaburi di tambak ikan, maka akan bereaksi yang menciptakan ekosistem baru, antara lain tumbuh lumut, melimpahnya zooplankton, cacing-cacing, jentik=jentik, kutu air, yang merupakan makanan alami untuk ikan

Dari limbah  kotoran sapi dikembangkan menjadi pupuk kompos yang dibutuhkan sektor pertanian dan perkebunan maupun persawahan pada lahan bekas tambang timah. Limbah pertanian seperti padi dan jagung bermanfaat untuk kebutuhan peternakan sapi dan sebagainya. Begitu seterusnya.

Di Eropa zerowaste sangat popular, sedangkan di Indonesia baru dimulai. "Ide ini sederhana, tapi membutuhkan  pemahaman yang tidak sederhana untuk mengembangkan paradigm baru dalam membangun Bangka Belitung ke depan" papar Djohan Ridwan Hasan (40), pionir BBG.

Di atas lahan 200 hektar yang sebelumnya berupa lahan gambut dan berpasir, kemudian diolah dan diciptakan ekosistem baru yang bermanfaat untuk jangka panjang. Antara lain kawasan ini menjadi pusat pembibitan beragam jenis tanaman, pembibitan beragam jenis ikan air tawar, menciptakan lahan-lahan persawahan yang telah ditanami berbagai jenis palawija, tambak budidaya ikan, maupun peternakan sapi perah dan potong.

Kendati demikian keaslian flora fauna tetap dipertahankan. Keasrian tumbuhan seperti pohon Gelam yang berusia satusan tahun dan tumbuhan lainnya tetap dilestarikan. Sepanjang jalan kawasan ini telah ditanami Cemara Pantai.

Selain itu 8.000 tanaman buah Naga telah tumbuh subur di kawasan ini. Demikia pula Rumput Gajah (King Grass) tumbuh subur di atas lahan yang selama ini dikenal hanya memiliki pH (keasaman) di bawah 5, sebagai indikasi lahan tidak subur tapi tidak kritis. Setelah diolah sedemikian rupa dengan menaikan pH tanah di atas 5 dengan menambah unsure hara tertentu, maka tanah tersebut menjadi layak untuk ditanami beragam jenis tanaman.

Rumput Gajah untuk konsumsi 300 sapi perah dan potong, jenis Fristien Holstein, Limousine, Simental, Black Angus, dan sapi Bali. Rumput Gajah yang penuh gizi menghasilkan berat sapi potong di atas 1 (satu) ton. Berat sapi ini merupakan rekor, selama ini dibawah satu ton yang dihasilkan para peternak sapi di Banka Belitung.

Dari hasil peternakan sapi menghasilkan pupuk kompos dengan kapasitas produksi 4 (empat) ton per hari. Selain untuk kebutuhan BBG, pupuk kompos didistribusikan untuk kebutuhan reklamasi di lahan 10.000 hektar, maupun kebutuhan masyarakat. Sedangkan sapi perahnya telah menghasilkan susu segar yang setiap hari didistribusi gratis secara bergiliran untuk konsumsi murid-murid TK dan SD di Pangkalpinang.

BBG berorientasi menumbuhkembangkan industri lokal yang sudah berkembang. Peternakan sapi yang telah dirintis sejak lama warga Madura di Bangka Belitung didorong supaya lebih maju.

Untuk itu boleh dibilang BBG mejadi inspirator bagi percepatan ekonomi Bangka Belitung. Bagi masyarakat luas, BBG dapat menjadi acuan dalam mengembangkan lahan tidur dan lahan bekas tambang timah (kolong) supaya menjadi produktif.

Di sisi lain dari BBG ini dapat pula dibangun jaringan sosial ekonomi yang saling terkait antara sektor hulu dan hilir. Lebih jauh lagi BBG akan menjadi kawasan ekoturism modern di Indonesia. "Inilah langkah konkrit Bangka Belitung dalam menghadapi era pasca timah" jelas Djohan Ridwan Hasan (Iskandar Hasan, 2009, hal 76).

Sumber :http://visitbangkabelitung.com

Artikel Lainnya

Operator Bangka Tour
Operator Bangka Tour
Rugi jika ke Bangka Tapi Tidak ke Pantai
Rugi jika ke Bangka Tapi Tidak ke Pantai